Tampilkan postingan dengan label Proram Pendidikan Guru Penggerak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Proram Pendidikan Guru Penggerak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 April 2022

KUMPULAN JURNAL REFLEKSI MINGGU KE 16 CGP PPGP ANGKATAN 4 DAMPINGAN PP BESLON SAMOSIR

 CGP:

BEBASUKI

Jurnal Refleksi Mingguan – Minggu 16

(Model Driscoll)

 Model ini diadaptasi dari refleksi yang digunakan pada praktik klinis (Driscoll & Teh, 2001). Model yang dikenal dengan Model "What?" ini pada dasarnya terdiri dari 3 bagian, namun dapat dikembangkan dengan berbagai variasi bergantung pada pertanyaan detail yang dipilih

What

 Pembelajaran modul 2.3. memasuki tahap akhir, yaitu Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi, dan Aksi Nyata. Pada tahap Demonstrasi Kontekstual, Pertanyaan-pertanyaan pada refleksi ini mendorong kami untuk menguatkan kembali materi coaching ini dan membedakan dengan pengalaman kami sebelum modul ini. Selain itu saya dapat merefleksikan hambatan yang dijalani dan bagaimana kiat kiatnya untuk menghadapi kendala tersebut. Dari refleksi dan metakognisi terhadap proses pembelajaran yang telah saya lalui maka saya dapat menggunakan pemahaman baru yang telah dipelajari untuk memperbaiki proses pembelajaran yang saya ampu.

Pada minggu ini saya juga sangat tertantang untuk melakukan praktik nyata pendampingan murid dengan pendekatan Coaching dalam Komunitas Sekolah. Pendampingan ini melibatkan salah satu murid yang memiliki masalah dalam pembelajaran atau dalam komunitas sekolahnya dan guru harus melakukan praktek coaching dengan model TIRTA di sekolah. Alur model TIRTA dalam proses coaching sangat membantu murid dalam melejitkan potensi dan menyelesaikan masalah dirinya dengan solusi dari dirinya sendiri.

 Kemudian :

saya melakukan praktik coaching dengan rekan sejawat. Praktik coaching yang saya lakukan masih belum melibatkan komunitas praktisi yang ada di sekolah. Praktik berlangsung secara informal untuk menggali potensi rekan sejawat sebagai coachee dalam menentukan komitmen diri menyelesaikan masalah yang dihadapi. Pada tahap akhir ini, ada sesi Elaborasi yang semakin menguatkan pemahaman saya terkait praktik coaching di sekolah kepada guru dan murid.

 Pada sesi elaborasi pemahaman saya mendapatkan penguatan lebih luas dan tuntas dari Instruktur nasional (Yudistira Aridayan) melalui berdiskusi untu mengelaborasi pemahaman mengenai konsep coaching dalam konteks pendidikan

 

So What

 Ada perasaan bahagia ketika akhirnya bisa melakukan praktik coaching dengan rekan sejawat. Selain itu juga ada rasa senang ketika mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak di sekolah termasuk komunitas praktisi. Namun, terbersit juga perasaan khawatir apabila ternyata hasil praktik coaching yang saya lakukan menurut orang lain masih membutuhkan banyak perbaikan. Selain itu, kekhawatiran juga terkait dengan belum bisanya hasil praktik memotivasi diri meningkatkan kompetensi ke depannya.

Saya rasa teman CGP lain pun memiliki perasaan yang sama. Karena memang masih dalam tahap latihan. Meskipun demikian, saya melakukannya dengan serius dan persiapan matang. Terlepas dari kekhawatiran itu, setidaknya saya sudah berusaha melakukan praktik coaching dengan sebaik-baiknya. Ada keyakinan perasaan seperti itu pada akhirnya akan perlahan menghilang setelah melalui latihan. Hasil pengamatan pada diri sendiri sebenarnya saya cenderung memiliki prinsip yang penting sudah dilakukan sebaik-baiknya. Perkara bagaimana hasilnya, itu urusan belakang. Saya cenderung seperti ini saat latihan pertama. Saya selalu berpikir bahwa akan ada kesempatan bagi yang mau melakukan perbaikan.

Dari latihan praktik coaching tersebut, ada hal yang berubah. Terutama menyangkut pemahaman tentang coaching. Pada awal mempelajari materi sepertinya coaching akan berat dilakukan. Namun, setelah dipraktikkan ternyata bisa. Ke depannya saya menjadi lebih yakin akan lebih mudah karena sudah sering latihan.

 Now What

Perasaan saya setelah mempraktikkan pendampingan murid dengan pendekatan Coaching adalah sangat tertarik dan mulai merefleksikan dengan pengalaman yang saya alami sebelumnya. Saya tertarik karena dengan coaching guru sebagai coach tidak secara langsung memberikan solusi dan arahan kepada murid tentang apa yang harus dilakukan. Akan tetapi dengan komunikasi asertif, memberikan pertanyaan terbuka yang bersifat reflektif dan efektif, mendengarkan aktif, dan dengan memberikan umpan balik positif dapat menggali potensi dan solusi dari murid itu sendiri dengan lebih efektif.

Melakukan hal baru membutuhkan kekuatan dan kemampuan. Tidak terkecuali praktik coaching dalam komunitas sekolah. Beruntung saat sesi praktik coaching di sekolah, teman yang berperan sebagai coachee sangat kooperatif. Mungkin akan berbeda jika rekan coachee saya adalah murid. Tentu akan membutuhkan usaha lebih keras lagi dalam menggali potensi dan informasi.

Oleh karena itu, agar lebih untuk itu saya harus belajar. Sesi elaborasi dengan instruktur adalah saat yang tepat untuk menambah pemahaman. Saya meyakini tambahan informasi dari instruktur akan sangat membantu saya nantinya saat harus melakukan coaching kepada murid. Hal baru adalah terkait penerapan coaching sebagai mindset dalam proses pembelajaran. Pada dasarnya coaching sudah dilakukan, sehingga dengan perubahan mindset dapat menjadikan coaching sebagai pembiasaan.

Pelaksanaan coaching dalam komunitas di sekolah tentu tidak bisa sendiri. Sebagai kegiatan yang kolaboratif, praktik coaching membutuhkan dukungan dari banyak pihak terkait. Bentuk dukungan yang saya harapkan adalah adanya masukan terhadap praktik coaching yang saya lakukan. Selain itu, dukungan berupa komitmen dari rekan sejawat untuk terus terlibat dalam kegiatan coaching. Baik itu sebagai coachee maupun coach. Ini merupakan dukungan utama agar praktik coaching menjadi budaya positif dalam komunitas di sekolah. Dukungan dari pihak sekolah juga sangat dibutuhkan dalam bentuk izin  menyelenggarakan coaching maupun penguatan terhadap komunitas yang ada. Selain itu, dukungan dari orang tua berupa peran aktif memberikan laporan terkait permasalahan anaknya selama belajar di rumah.

Rencana terdekat adalah melakukan latihan coaching lagi dengan murid sebagai coachee. Hal ini saya lakukan agar setelah selesai mengikuti program ini akan mampu memiliki kompetensi coaching murid yang lebih baik. Sedangkan hal baik yang bisa saya bagi kepada rekan sejawat di sekolah adalah bahwa praktik coaching ini sangat membantu guru dan murid dalam menyelesaikan masalah oleh dirinya sendiri berdasarkan potensi yang dimiliki. Selain itu, dengan adanya jadwal berbagi dalam komunitas praktisi akan membuat praktik coaching ini sebagai budaya positif di sekolah.

 

Sekian dan Terimakasih

 *****************************************************************************

QOIRYANI POHAN, S.Pd

SABTU, 02 APRIL 2022

MOSEL DRISCOLL ( SO WHAT, WHAT, NOW WHAT)

Model ini diadaptasi dari refleksi yang digunakan pada praktik klinis (Driscoll & Teh, 2001). Model yang dikenal dengan Model "What?" ini pada dasarnya terdiri dari 3 bagian, namun dapat dikembangkan dengan berbagai variasi bergantung pada pertanyaan detail yang dipilih.

WHAT (Deskripsi dari peristiwa yang terjadi)

Pada minggu ke-16 ini masuk pada alur MERDEKA pada fase Refleksi Terbimbing, Demonstrasi Kontekstual dan Elaborasi Pemahaman. Pada Refleksi Terbimbing saya harus merenung. mengingat kembali, dan melakukan refleksi mendalam mengenai hal-hal yang telah saya pelajari pada modul coaching ini. Pertanyaan-pertanyaan pada refleksi ini mendorong kami untuk menguatkan kembali materi coaching ini dan membedakan dengan pengalaman kami sebelum modul ini. Selain itu saya dapat merefleksikan hambatan yang dijalani dan bagaimana kiat kiatnya untuk menghadapi kendala tersebut. Dari refleksi dan metakognisi terhadap proses pembelajaran yang telah saya lalui maka saya dapat menggunakan pemahaman baru yang telah dipelajari untuk memperbaiki proses pembelajaran yang saya ampu.

Pada minggu ini saya juga sangat tertantang untuk melakukan praktik nyata pendampingan murid dengan pendekatan Coaching dalam Komunitas Sekolah. Pendampingan ini melibatkan salah satu murid yang memiliki masalah dalam pembelajaran atau dalam komunitas sekolahnya dan guru harus melakukan praktek coaching dengan model TIRTA di sekolah. Alur model TIRTA dalam proses coaching sangat membantu murid dalam melejitkan potensi dan menyelesaikan masalah dirinya dengan solusi dari dirinya sendiri. Pada sesi elaborasi pemahaman saya mendapatkan penguatan lebih luas dan tuntas dari Instruktur nasional melalui berdiskusi untu mengelaborasi pemahaman mengenai konsep coaching dalam konteks Pendidikan

.SO WHAT (Analisis dari peristiwa yang terjadi)

Perasaan saya setelah mempraktikkan pendampingan murid dengan pendekatan Coaching adalah sangat tertarik dan mulai merefleksikan dengan pengalaman yang saya alami sebelumnya. Saya tertarik karena dengan coaching guru sebagai coach tidak secara langsung memberikan solusi dan arahan kepada murid tentang apa yang harus dilakukan. Akan tetapi dengan komunikasi asertif, memberikan pertanyaan terbuka yang bersifat reflektif dan efektif, mendengarkan aktif, dan dengan memberikan umpan balik positif dapat menggali potensi dan solusi dari murid itu sendiri dengan lebih efektif.

Pendampingan dengan praktik coaching ini membuka refleksi dengan pengalaman baru yang sangat berbeda dengan pengalaman saya yang sebelumnya. Setelah praktik coaching ini saya mengerti dan memahami bahwa proses coaching juga merupakan proses untuk mengaktivasi ker ja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam dapat membuat murid melakukan metakognisi atas pengalaman dirinya. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan yang efektif dalam proses coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam. Yang akhirnya, murid dapat menemukan potensi dan mengembangkannya menjadi sebuah potensi yang sangat bermanfaat dalam dirinya dan komunitasnya disekolah.

NOW WHAT (Tindak lanjut dari peristiwa yang terjadi)

Jika tidak mempelajari materi coaching ini mungkin respon saya dari permaslahan siswa akan sangat berbeda dan kurang memberikan terapi yang lebih menggali potensi murid. Hasilnya tentu hanya akan membuat murid hanya akan selalu tergantung pada guru atau orang dewasa lain. Sehingga murid atau orang lain tidak dapat menggali potensinya sendiri dan tidak akan hidup mandiri dan berpotensi yang tinggi. Dari pengalaman belajar dan hasil refleksi serta analisis pengalaman yang saya alami membuat saya semakin membuka mata untuk terus belajar coaching dengan semua teknik di dalamnya. Caranya, saya akan memperbanyak mencari literasi baik dari manusia, teknologi, maupun media informasi lainnya. Saya juga selalu meminta dukungan dari pimpinan dan kolaborasi dari rekan se jawat. Memperbanyak komunitas praktisi juga merupakan saah satu meningkatkan kemampuan dan belajar saya selama ini.

https://drive.google.com/file/d/1lgdnWOjIqtOLXsPMguA21iA5zkVaWSnn/view?usp=sharing

https://bit.ly/CGP_ANGKATAN4_Pematangsiantar_QoiryaniPohan-JurnalRefleksiMinggu16

 

 ****************************************************************************

 

RIAMSAH SIHOTANG, S.Pd

SALAM SEHAT DAN SALAM BAHAGIA…

 MODEL  :  5 R ( REPORTING, RESPONDING, RELATING, REASONING,   RECONSTRUCTING

 Reporting ( Menceritakan ulang peristiwa yang terjadi )

        Pada Minggu ini , tepatnya adalah minggu terakhir dalam modul 2, saya mendalami tentang Refleksi terbimbingyaitu memahami lebih

dalam tehnik couching yang efektif dalam optimalisasi  pengembang

an kompetensi Pendidik yang memerdekakan murid. Praktik Couching yang sesuai dengan model TIRTA dalam komunitas sekolah, elaborasi bersama instruktur dan mengkoneksikan seluruh materi pelajaran.

             Pembelajaran  yang didapatkan adalah praktek couching yang berpihak pada murid,  dimana CGP bekerja dalam melakukan praktik couching model TIRTA bersama teman sejawat atau dengan murid , dengan peran sebagai  couch dan couchee , tanpa ada pengamat selain itu ditugas akhir juga membuat rancangan tindakan untuk aksi nyata.

Responding ( Menjabarkan tanggapan yang diberikan dalam menghadapi peristiwa yang diceritakan )

            Tanggapan saya terhadap pembelajaran dalam minggu ini adalah saya sangat antusias , karena, proses couching model TIRTA ini sangat bermanfaat ketika menghadapi situasi Pandemi seperti sekarang ini, saya bisa mengatasi masalah saya sendiri, murid,orangtua, maupun rekan-rekan sejawat

           Saya meyakini model TIRTA dapat dipraktekkan dalam situasi  lokal kelas dan sekolah kami. Karena model ini mudah diterapkan asalkan mau mengembangkan teknik komunikasi yang benar. Tantangan yang mungkin muncul adalah berkomunikasi dalam rangka menegaskan tujuan dari adanya couching tersebut.Couch,berusaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka,yang menciptakan kejelasan dari pada couchee.

Relating ( Menghubungkan kaitan antara peristiwa dengan pengetahuan ,keterampilan ,keyakinan atau informasi yang dimilki )

         Couching model TIRTA ini berkaitan dengan Ki Hajar Dewantara yaitu guru menuntun murid sesuai kodratnya,mewujudkan nilai-nilai pancasila dan menjadikannya sebagai budaya positif. Peristiwa Couching juga dapat dikaitkan dengan peran guru sebagai Penuntun pembelajaran murid  disekolah yang sudah diterapkan oleh semua pendidik.

          Selain itu pembelajaran berdiferensiasi dan KSE  kompetensi social emosional anak juga berfungsi sebagai pijakan dalam proses couching, yaitu dalam menuntun potensi diri murid.

Reasoning ( Menganalisis dengan detail mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi dan mengambil perspektif lain)

         Proses couching pada minggu ini belum terlaksana secara sempurna, hal ini diakibatkan masih adanya perasaan canggung dan belum terbuka. Alternatif  pemecahan masalah tersebut  adalah melalui  pendekatan personal yang lebih intens untuk mengatasi permasalahan yang dialami oleh murid murid .

          Kemudian adanya Ketertutupan seorang coachee menjadi batu sandungan yang menghambat berlansungnya proses couching, bahkan kepasifan murid dalam berkomunikasi menjadi hambatan tersendiri bagi guru sebagai coach walaupun berbagai usaha dilakukan tetap saja tak beubah.

  Reconstructing.

         Merancang ulang rencana alternatif, yang saya lakukan agar perencanaan berjalan , yaitu dengan lebih cermat dan efektif melakukan pengenalan diri, berkesadaran penuh, dan memahami potensi anak-anak sesuai kodratnya, berpikir kritis, dan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan . Di Aksi nyata lah kemampuan kita dalam melakukan proses coaching sangat dibutuhkan. Bagaimana kita memilki potensi dan keterampilan yang harus dikerahkan untuk menggali potensi coachee dalam menyelesaikan masalahnya sendiri. 

 

 Refleksi Mandiri  :

          Yang menjadi Refleksi bagi diri saya adalah  melalui couching model TIRTA , saya akan melakukan proses perubahan praktek couching, biasanya saya cenderung menjadi Konselor ataupun mentor,tanpa memberi kesempatan pada murid untuk mengeksplorasi permasalahannya. Sekarang tentunya dengan model TIRTA berharap menjadi lebih baik lagi untuk ke depan.

Demikianlah jurnal refleksi ini,semoga bermanfaat .

Salam Calon Guru Penggerak

 ****************************************************************************

SRI SOFIAN

Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C)

Minggu ini sudah tiba pada minggu ke enambelas  dalam Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 4. Seperti biasa refleksi merupakan hal yang sangat penting dan perlu dilakukan oleh Calon Guru Penggerak karena hal ini dapat mendorong  guru untuk menghubungkan teori yang sudah diperoleh dengan praktik baik yang sudah dilakukan. Dengan demikian dapat menumbuhkan keterampilan Calon Guru Penggerak untuk mengevaluasi sebuah topik secara kritis, sehingga Calon Guru Penggerak dapat mengenali diri baik kekurangan dan kelebihan untuk seterusnya dapat mengevaluasi diri menjadi lebih baik.

Connection:

Coaching adalah bentuk patnership yang terjalin antara coach dan coachee dalam hal memaksimalkan potensi pribadi dan profesional  untuk menstimulus dan mengeksplorasi pikiran agar dapat memaksimalkan potensi personal dan profesional. Hal ini tentunya sangat berkaitan erat dengan peran guru penggerak yakni menjadi pelatih bagi guru lain untuk pembelajaran yang berpusat pada murid. Dengan demikian sangat penting bagi seorang Calon Guru penggerak untuk mengetahui bagaimana menjadi coach yang baik agar dapat memimpin dan mempengaruhi guru lain dan semua warga sekolah agar tumbuh jiwa kepemimpinan siswa sebagai upaya mewujudkan profil pelajar pancasila.

Challenge:

Selama mengikuti rangkaian pembelajaran Calon Guru Penggerak sebenarnya tidak ada  materi dan pendapat dari narasumber yang berbeda namun semua materi melengkapi apa yang sudah dilakukan oleh Calon Guru Penggerak dalam kegiatan belajar mengajar sebelumnya. Ada beberapa hal baru yang saya ketahui yakni beberapa model coaching yakni model TIRTA. Hal lain yang penting adalah dalam pelaksanaan coaching seorang coah harus dapat memposisikan diri agar tidak melakukan posisi mentor, konselor dalam proses coaching.

Concept:

Konsep -- konsep penting yang dipelajari :

Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan

Sistem Among merupakan salah satu kekuatan dalam pendekatan pendampingan coaching bagi guru Tut Wuri ( mengikuti, mendampingi ) artinya mengikuti dan mendampingi pekembangan murid dengan penuh atas dasar cinta kasih, tanpa pamrih dan rasa ingin menguasai. Sedangkan Handayani ( mempengaruhi ) mempunyai arti merangsang, memberi teladan agar murid mampu mengembangkan potensi dirinya secara pribadai secara mandiri.

Komunikasi Yang Memberdayakan

Komunikasi adalah hubungan yang simetris, dalam berkomunikasi bahasa harus dimengerti dengan benar, dilakukan dengan tulus oleh kedua belah pihak serta sepakat dan mengaku untuk mematuhi norma yang berlaku. Beberapa hal penting yang perlu dilatih untuk melancarkan parktik coaching adalah :  Komunikasi asertif, pendengar aktif, bertanya efektif serta umpan balik secara positif.

TIRTA Sebagai Model Coaching.

Model coaching TIRTA merupakan hal yang simple untuk dipraktikkan namun memiliki banyak pengaruh terhadap pelaksanaan coaching jika dilakukan sesuai dengan langkah- langkah coaching model TIRTA yakni  Tujuan Umum, identifikasi, Rencana aksi dan Tanggungjawab.

Change:

Hal yang signifikan adalah mulai merubah pola coaching sebelumnya misalnya jika dahulu dalam proses coaching, coach selalu menguasai pembicaraan dan memiliki kecenderungan memberikan solusi maka setelah mempelajari materi ini Calon Guru Penggerak melakukan perubahan pola coaching sesuai model yang dipelajari dengan lebih benyak menggunakan pertanyaan pemantik untuk merangsang munculnya potensi yang dimiliki oleh coachee dalam menyelesaikan masalah.

Demikian Jurnal Refleksi minggu ke enambelas. Semoga bermanfaat

 

 

Entri yang Diunggulkan

LAPORAN LOKAKARYA 5 PROGRAM PENDIDIKAN GURU PENGGERAK ANGAKATAN 4 KOTA PEMATANGSIANTAR

    LAPORAN KEGIATAN   LOKAKARYA KELIMA   REFLEKSI KOMPETENSI CALON GURU PENGGERAK   THEMA: GURU SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN   ...