Kamis, 28 April 2022

KUMPULAN JURNAL REFLEKSI MINGGU KE 16 CGP PPGP ANGKATAN 4 DAMPINGAN PP BESLON SAMOSIR

 CGP:

BEBASUKI

Jurnal Refleksi Mingguan – Minggu 16

(Model Driscoll)

 Model ini diadaptasi dari refleksi yang digunakan pada praktik klinis (Driscoll & Teh, 2001). Model yang dikenal dengan Model "What?" ini pada dasarnya terdiri dari 3 bagian, namun dapat dikembangkan dengan berbagai variasi bergantung pada pertanyaan detail yang dipilih

What

 Pembelajaran modul 2.3. memasuki tahap akhir, yaitu Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi, dan Aksi Nyata. Pada tahap Demonstrasi Kontekstual, Pertanyaan-pertanyaan pada refleksi ini mendorong kami untuk menguatkan kembali materi coaching ini dan membedakan dengan pengalaman kami sebelum modul ini. Selain itu saya dapat merefleksikan hambatan yang dijalani dan bagaimana kiat kiatnya untuk menghadapi kendala tersebut. Dari refleksi dan metakognisi terhadap proses pembelajaran yang telah saya lalui maka saya dapat menggunakan pemahaman baru yang telah dipelajari untuk memperbaiki proses pembelajaran yang saya ampu.

Pada minggu ini saya juga sangat tertantang untuk melakukan praktik nyata pendampingan murid dengan pendekatan Coaching dalam Komunitas Sekolah. Pendampingan ini melibatkan salah satu murid yang memiliki masalah dalam pembelajaran atau dalam komunitas sekolahnya dan guru harus melakukan praktek coaching dengan model TIRTA di sekolah. Alur model TIRTA dalam proses coaching sangat membantu murid dalam melejitkan potensi dan menyelesaikan masalah dirinya dengan solusi dari dirinya sendiri.

 Kemudian :

saya melakukan praktik coaching dengan rekan sejawat. Praktik coaching yang saya lakukan masih belum melibatkan komunitas praktisi yang ada di sekolah. Praktik berlangsung secara informal untuk menggali potensi rekan sejawat sebagai coachee dalam menentukan komitmen diri menyelesaikan masalah yang dihadapi. Pada tahap akhir ini, ada sesi Elaborasi yang semakin menguatkan pemahaman saya terkait praktik coaching di sekolah kepada guru dan murid.

 Pada sesi elaborasi pemahaman saya mendapatkan penguatan lebih luas dan tuntas dari Instruktur nasional (Yudistira Aridayan) melalui berdiskusi untu mengelaborasi pemahaman mengenai konsep coaching dalam konteks pendidikan

 

So What

 Ada perasaan bahagia ketika akhirnya bisa melakukan praktik coaching dengan rekan sejawat. Selain itu juga ada rasa senang ketika mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak di sekolah termasuk komunitas praktisi. Namun, terbersit juga perasaan khawatir apabila ternyata hasil praktik coaching yang saya lakukan menurut orang lain masih membutuhkan banyak perbaikan. Selain itu, kekhawatiran juga terkait dengan belum bisanya hasil praktik memotivasi diri meningkatkan kompetensi ke depannya.

Saya rasa teman CGP lain pun memiliki perasaan yang sama. Karena memang masih dalam tahap latihan. Meskipun demikian, saya melakukannya dengan serius dan persiapan matang. Terlepas dari kekhawatiran itu, setidaknya saya sudah berusaha melakukan praktik coaching dengan sebaik-baiknya. Ada keyakinan perasaan seperti itu pada akhirnya akan perlahan menghilang setelah melalui latihan. Hasil pengamatan pada diri sendiri sebenarnya saya cenderung memiliki prinsip yang penting sudah dilakukan sebaik-baiknya. Perkara bagaimana hasilnya, itu urusan belakang. Saya cenderung seperti ini saat latihan pertama. Saya selalu berpikir bahwa akan ada kesempatan bagi yang mau melakukan perbaikan.

Dari latihan praktik coaching tersebut, ada hal yang berubah. Terutama menyangkut pemahaman tentang coaching. Pada awal mempelajari materi sepertinya coaching akan berat dilakukan. Namun, setelah dipraktikkan ternyata bisa. Ke depannya saya menjadi lebih yakin akan lebih mudah karena sudah sering latihan.

 Now What

Perasaan saya setelah mempraktikkan pendampingan murid dengan pendekatan Coaching adalah sangat tertarik dan mulai merefleksikan dengan pengalaman yang saya alami sebelumnya. Saya tertarik karena dengan coaching guru sebagai coach tidak secara langsung memberikan solusi dan arahan kepada murid tentang apa yang harus dilakukan. Akan tetapi dengan komunikasi asertif, memberikan pertanyaan terbuka yang bersifat reflektif dan efektif, mendengarkan aktif, dan dengan memberikan umpan balik positif dapat menggali potensi dan solusi dari murid itu sendiri dengan lebih efektif.

Melakukan hal baru membutuhkan kekuatan dan kemampuan. Tidak terkecuali praktik coaching dalam komunitas sekolah. Beruntung saat sesi praktik coaching di sekolah, teman yang berperan sebagai coachee sangat kooperatif. Mungkin akan berbeda jika rekan coachee saya adalah murid. Tentu akan membutuhkan usaha lebih keras lagi dalam menggali potensi dan informasi.

Oleh karena itu, agar lebih untuk itu saya harus belajar. Sesi elaborasi dengan instruktur adalah saat yang tepat untuk menambah pemahaman. Saya meyakini tambahan informasi dari instruktur akan sangat membantu saya nantinya saat harus melakukan coaching kepada murid. Hal baru adalah terkait penerapan coaching sebagai mindset dalam proses pembelajaran. Pada dasarnya coaching sudah dilakukan, sehingga dengan perubahan mindset dapat menjadikan coaching sebagai pembiasaan.

Pelaksanaan coaching dalam komunitas di sekolah tentu tidak bisa sendiri. Sebagai kegiatan yang kolaboratif, praktik coaching membutuhkan dukungan dari banyak pihak terkait. Bentuk dukungan yang saya harapkan adalah adanya masukan terhadap praktik coaching yang saya lakukan. Selain itu, dukungan berupa komitmen dari rekan sejawat untuk terus terlibat dalam kegiatan coaching. Baik itu sebagai coachee maupun coach. Ini merupakan dukungan utama agar praktik coaching menjadi budaya positif dalam komunitas di sekolah. Dukungan dari pihak sekolah juga sangat dibutuhkan dalam bentuk izin  menyelenggarakan coaching maupun penguatan terhadap komunitas yang ada. Selain itu, dukungan dari orang tua berupa peran aktif memberikan laporan terkait permasalahan anaknya selama belajar di rumah.

Rencana terdekat adalah melakukan latihan coaching lagi dengan murid sebagai coachee. Hal ini saya lakukan agar setelah selesai mengikuti program ini akan mampu memiliki kompetensi coaching murid yang lebih baik. Sedangkan hal baik yang bisa saya bagi kepada rekan sejawat di sekolah adalah bahwa praktik coaching ini sangat membantu guru dan murid dalam menyelesaikan masalah oleh dirinya sendiri berdasarkan potensi yang dimiliki. Selain itu, dengan adanya jadwal berbagi dalam komunitas praktisi akan membuat praktik coaching ini sebagai budaya positif di sekolah.

 

Sekian dan Terimakasih

 *****************************************************************************

QOIRYANI POHAN, S.Pd

SABTU, 02 APRIL 2022

MOSEL DRISCOLL ( SO WHAT, WHAT, NOW WHAT)

Model ini diadaptasi dari refleksi yang digunakan pada praktik klinis (Driscoll & Teh, 2001). Model yang dikenal dengan Model "What?" ini pada dasarnya terdiri dari 3 bagian, namun dapat dikembangkan dengan berbagai variasi bergantung pada pertanyaan detail yang dipilih.

WHAT (Deskripsi dari peristiwa yang terjadi)

Pada minggu ke-16 ini masuk pada alur MERDEKA pada fase Refleksi Terbimbing, Demonstrasi Kontekstual dan Elaborasi Pemahaman. Pada Refleksi Terbimbing saya harus merenung. mengingat kembali, dan melakukan refleksi mendalam mengenai hal-hal yang telah saya pelajari pada modul coaching ini. Pertanyaan-pertanyaan pada refleksi ini mendorong kami untuk menguatkan kembali materi coaching ini dan membedakan dengan pengalaman kami sebelum modul ini. Selain itu saya dapat merefleksikan hambatan yang dijalani dan bagaimana kiat kiatnya untuk menghadapi kendala tersebut. Dari refleksi dan metakognisi terhadap proses pembelajaran yang telah saya lalui maka saya dapat menggunakan pemahaman baru yang telah dipelajari untuk memperbaiki proses pembelajaran yang saya ampu.

Pada minggu ini saya juga sangat tertantang untuk melakukan praktik nyata pendampingan murid dengan pendekatan Coaching dalam Komunitas Sekolah. Pendampingan ini melibatkan salah satu murid yang memiliki masalah dalam pembelajaran atau dalam komunitas sekolahnya dan guru harus melakukan praktek coaching dengan model TIRTA di sekolah. Alur model TIRTA dalam proses coaching sangat membantu murid dalam melejitkan potensi dan menyelesaikan masalah dirinya dengan solusi dari dirinya sendiri. Pada sesi elaborasi pemahaman saya mendapatkan penguatan lebih luas dan tuntas dari Instruktur nasional melalui berdiskusi untu mengelaborasi pemahaman mengenai konsep coaching dalam konteks Pendidikan

.SO WHAT (Analisis dari peristiwa yang terjadi)

Perasaan saya setelah mempraktikkan pendampingan murid dengan pendekatan Coaching adalah sangat tertarik dan mulai merefleksikan dengan pengalaman yang saya alami sebelumnya. Saya tertarik karena dengan coaching guru sebagai coach tidak secara langsung memberikan solusi dan arahan kepada murid tentang apa yang harus dilakukan. Akan tetapi dengan komunikasi asertif, memberikan pertanyaan terbuka yang bersifat reflektif dan efektif, mendengarkan aktif, dan dengan memberikan umpan balik positif dapat menggali potensi dan solusi dari murid itu sendiri dengan lebih efektif.

Pendampingan dengan praktik coaching ini membuka refleksi dengan pengalaman baru yang sangat berbeda dengan pengalaman saya yang sebelumnya. Setelah praktik coaching ini saya mengerti dan memahami bahwa proses coaching juga merupakan proses untuk mengaktivasi ker ja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam dapat membuat murid melakukan metakognisi atas pengalaman dirinya. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan yang efektif dalam proses coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam. Yang akhirnya, murid dapat menemukan potensi dan mengembangkannya menjadi sebuah potensi yang sangat bermanfaat dalam dirinya dan komunitasnya disekolah.

NOW WHAT (Tindak lanjut dari peristiwa yang terjadi)

Jika tidak mempelajari materi coaching ini mungkin respon saya dari permaslahan siswa akan sangat berbeda dan kurang memberikan terapi yang lebih menggali potensi murid. Hasilnya tentu hanya akan membuat murid hanya akan selalu tergantung pada guru atau orang dewasa lain. Sehingga murid atau orang lain tidak dapat menggali potensinya sendiri dan tidak akan hidup mandiri dan berpotensi yang tinggi. Dari pengalaman belajar dan hasil refleksi serta analisis pengalaman yang saya alami membuat saya semakin membuka mata untuk terus belajar coaching dengan semua teknik di dalamnya. Caranya, saya akan memperbanyak mencari literasi baik dari manusia, teknologi, maupun media informasi lainnya. Saya juga selalu meminta dukungan dari pimpinan dan kolaborasi dari rekan se jawat. Memperbanyak komunitas praktisi juga merupakan saah satu meningkatkan kemampuan dan belajar saya selama ini.

https://drive.google.com/file/d/1lgdnWOjIqtOLXsPMguA21iA5zkVaWSnn/view?usp=sharing

https://bit.ly/CGP_ANGKATAN4_Pematangsiantar_QoiryaniPohan-JurnalRefleksiMinggu16

 

 ****************************************************************************

 

RIAMSAH SIHOTANG, S.Pd

SALAM SEHAT DAN SALAM BAHAGIA…

 MODEL  :  5 R ( REPORTING, RESPONDING, RELATING, REASONING,   RECONSTRUCTING

 Reporting ( Menceritakan ulang peristiwa yang terjadi )

        Pada Minggu ini , tepatnya adalah minggu terakhir dalam modul 2, saya mendalami tentang Refleksi terbimbingyaitu memahami lebih

dalam tehnik couching yang efektif dalam optimalisasi  pengembang

an kompetensi Pendidik yang memerdekakan murid. Praktik Couching yang sesuai dengan model TIRTA dalam komunitas sekolah, elaborasi bersama instruktur dan mengkoneksikan seluruh materi pelajaran.

             Pembelajaran  yang didapatkan adalah praktek couching yang berpihak pada murid,  dimana CGP bekerja dalam melakukan praktik couching model TIRTA bersama teman sejawat atau dengan murid , dengan peran sebagai  couch dan couchee , tanpa ada pengamat selain itu ditugas akhir juga membuat rancangan tindakan untuk aksi nyata.

Responding ( Menjabarkan tanggapan yang diberikan dalam menghadapi peristiwa yang diceritakan )

            Tanggapan saya terhadap pembelajaran dalam minggu ini adalah saya sangat antusias , karena, proses couching model TIRTA ini sangat bermanfaat ketika menghadapi situasi Pandemi seperti sekarang ini, saya bisa mengatasi masalah saya sendiri, murid,orangtua, maupun rekan-rekan sejawat

           Saya meyakini model TIRTA dapat dipraktekkan dalam situasi  lokal kelas dan sekolah kami. Karena model ini mudah diterapkan asalkan mau mengembangkan teknik komunikasi yang benar. Tantangan yang mungkin muncul adalah berkomunikasi dalam rangka menegaskan tujuan dari adanya couching tersebut.Couch,berusaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka,yang menciptakan kejelasan dari pada couchee.

Relating ( Menghubungkan kaitan antara peristiwa dengan pengetahuan ,keterampilan ,keyakinan atau informasi yang dimilki )

         Couching model TIRTA ini berkaitan dengan Ki Hajar Dewantara yaitu guru menuntun murid sesuai kodratnya,mewujudkan nilai-nilai pancasila dan menjadikannya sebagai budaya positif. Peristiwa Couching juga dapat dikaitkan dengan peran guru sebagai Penuntun pembelajaran murid  disekolah yang sudah diterapkan oleh semua pendidik.

          Selain itu pembelajaran berdiferensiasi dan KSE  kompetensi social emosional anak juga berfungsi sebagai pijakan dalam proses couching, yaitu dalam menuntun potensi diri murid.

Reasoning ( Menganalisis dengan detail mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi dan mengambil perspektif lain)

         Proses couching pada minggu ini belum terlaksana secara sempurna, hal ini diakibatkan masih adanya perasaan canggung dan belum terbuka. Alternatif  pemecahan masalah tersebut  adalah melalui  pendekatan personal yang lebih intens untuk mengatasi permasalahan yang dialami oleh murid murid .

          Kemudian adanya Ketertutupan seorang coachee menjadi batu sandungan yang menghambat berlansungnya proses couching, bahkan kepasifan murid dalam berkomunikasi menjadi hambatan tersendiri bagi guru sebagai coach walaupun berbagai usaha dilakukan tetap saja tak beubah.

  Reconstructing.

         Merancang ulang rencana alternatif, yang saya lakukan agar perencanaan berjalan , yaitu dengan lebih cermat dan efektif melakukan pengenalan diri, berkesadaran penuh, dan memahami potensi anak-anak sesuai kodratnya, berpikir kritis, dan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan . Di Aksi nyata lah kemampuan kita dalam melakukan proses coaching sangat dibutuhkan. Bagaimana kita memilki potensi dan keterampilan yang harus dikerahkan untuk menggali potensi coachee dalam menyelesaikan masalahnya sendiri. 

 

 Refleksi Mandiri  :

          Yang menjadi Refleksi bagi diri saya adalah  melalui couching model TIRTA , saya akan melakukan proses perubahan praktek couching, biasanya saya cenderung menjadi Konselor ataupun mentor,tanpa memberi kesempatan pada murid untuk mengeksplorasi permasalahannya. Sekarang tentunya dengan model TIRTA berharap menjadi lebih baik lagi untuk ke depan.

Demikianlah jurnal refleksi ini,semoga bermanfaat .

Salam Calon Guru Penggerak

 ****************************************************************************

SRI SOFIAN

Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C)

Minggu ini sudah tiba pada minggu ke enambelas  dalam Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 4. Seperti biasa refleksi merupakan hal yang sangat penting dan perlu dilakukan oleh Calon Guru Penggerak karena hal ini dapat mendorong  guru untuk menghubungkan teori yang sudah diperoleh dengan praktik baik yang sudah dilakukan. Dengan demikian dapat menumbuhkan keterampilan Calon Guru Penggerak untuk mengevaluasi sebuah topik secara kritis, sehingga Calon Guru Penggerak dapat mengenali diri baik kekurangan dan kelebihan untuk seterusnya dapat mengevaluasi diri menjadi lebih baik.

Connection:

Coaching adalah bentuk patnership yang terjalin antara coach dan coachee dalam hal memaksimalkan potensi pribadi dan profesional  untuk menstimulus dan mengeksplorasi pikiran agar dapat memaksimalkan potensi personal dan profesional. Hal ini tentunya sangat berkaitan erat dengan peran guru penggerak yakni menjadi pelatih bagi guru lain untuk pembelajaran yang berpusat pada murid. Dengan demikian sangat penting bagi seorang Calon Guru penggerak untuk mengetahui bagaimana menjadi coach yang baik agar dapat memimpin dan mempengaruhi guru lain dan semua warga sekolah agar tumbuh jiwa kepemimpinan siswa sebagai upaya mewujudkan profil pelajar pancasila.

Challenge:

Selama mengikuti rangkaian pembelajaran Calon Guru Penggerak sebenarnya tidak ada  materi dan pendapat dari narasumber yang berbeda namun semua materi melengkapi apa yang sudah dilakukan oleh Calon Guru Penggerak dalam kegiatan belajar mengajar sebelumnya. Ada beberapa hal baru yang saya ketahui yakni beberapa model coaching yakni model TIRTA. Hal lain yang penting adalah dalam pelaksanaan coaching seorang coah harus dapat memposisikan diri agar tidak melakukan posisi mentor, konselor dalam proses coaching.

Concept:

Konsep -- konsep penting yang dipelajari :

Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan

Sistem Among merupakan salah satu kekuatan dalam pendekatan pendampingan coaching bagi guru Tut Wuri ( mengikuti, mendampingi ) artinya mengikuti dan mendampingi pekembangan murid dengan penuh atas dasar cinta kasih, tanpa pamrih dan rasa ingin menguasai. Sedangkan Handayani ( mempengaruhi ) mempunyai arti merangsang, memberi teladan agar murid mampu mengembangkan potensi dirinya secara pribadai secara mandiri.

Komunikasi Yang Memberdayakan

Komunikasi adalah hubungan yang simetris, dalam berkomunikasi bahasa harus dimengerti dengan benar, dilakukan dengan tulus oleh kedua belah pihak serta sepakat dan mengaku untuk mematuhi norma yang berlaku. Beberapa hal penting yang perlu dilatih untuk melancarkan parktik coaching adalah :  Komunikasi asertif, pendengar aktif, bertanya efektif serta umpan balik secara positif.

TIRTA Sebagai Model Coaching.

Model coaching TIRTA merupakan hal yang simple untuk dipraktikkan namun memiliki banyak pengaruh terhadap pelaksanaan coaching jika dilakukan sesuai dengan langkah- langkah coaching model TIRTA yakni  Tujuan Umum, identifikasi, Rencana aksi dan Tanggungjawab.

Change:

Hal yang signifikan adalah mulai merubah pola coaching sebelumnya misalnya jika dahulu dalam proses coaching, coach selalu menguasai pembicaraan dan memiliki kecenderungan memberikan solusi maka setelah mempelajari materi ini Calon Guru Penggerak melakukan perubahan pola coaching sesuai model yang dipelajari dengan lebih benyak menggunakan pertanyaan pemantik untuk merangsang munculnya potensi yang dimiliki oleh coachee dalam menyelesaikan masalah.

Demikian Jurnal Refleksi minggu ke enambelas. Semoga bermanfaat

 

 

Sabtu, 23 April 2022

PENDAMPINGAN INDIVIDU (PI) 4 PROGRAM PENDIDIKAN GURU PENGGERAK

Tujuan

Pendampingan individu bertujuan untuk membantu Calon Guru Penggerak menerapkan hasil pembelajaran daring dan lokakarya sehingga Calon Guru Penggerak mampu:
  1. mengembangkan diri sendiri dan juga guru lain dengan cara melakukan refleksi, berbagi, dan kolaborasi;
  2. memiliki kematangan moral, emosional, dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik; 
  3. merencanakan, menjalankan, merefleksikan, dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan melibatkan orang tua;

Jadwal

Proses pendampingan individu akan berlangsung satu bulan sekali sepanjang proses Pendidikan Guru Penggerak. Dalam setiap bulannya, pendamping akan mengunjungi sekolah Calon Guru Penggerak selama kurang lebih 4 jam untuk mengamati kegiatan pembelajaran dan perubahan yang terjadi di sekolah sebagai implementasi pembelajaran daring dan lokakarya serta mengajak mereka merefleksikan prosesnya.

Tema Pendampingan Individu

No

Fokus Pendampingan

0

  1. Diskusi tantangan belajar daring
  2. Refleksi penerapan perubahan kelas sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara

1

  1. Refleksi dan diskusi hasil umpan balik rekan sejawat
  2. Diskusi tantangan penerapan aksi nyata pada modul 1.1 dan 1.2

2

  1. Diskusi penerapan komunitas praktisi di sekolah dengan menggunakan lembar kerja di Lokakarya 1 dengan pertanyaan kunci seputar capaian, tantangan, diskusi solusi tantangan
  2. Refleksi penerapan positif disiplin di kelas CGP
  3. Diskusi refleksi menjalankan tugas untuk dibawa ke Lokakarya 3

3

  1. Diskusi pelaksanaan komitmen CGP dan kepala sekolah 
  2. Diskusi komunikasi visi ke warga sekolah dan bagaimana tanggapan warga sekolah terhadap penyampaian visi, 
  3. Pertanyaan tentang capaian, tantangan dan upaya perbaikan.
  4. Diskusi tentang hasil pemetaan karakter murid di kelasnya (Modul 2.1)

4

  1. Diskusi aksi nyata setelah lokakarya 4 dan modul 2.2

  • Diskusi pra-observasi dengan menggunakan lembar persiapan observasi yang sudah disediakan
  • Observasi Praktik Pembelajaran
  • Memfasilitasi refleksi dan memberi umpan balik hasil observasi
  • Membimbing perencanaan perbaikan
  • Follow up tugas hasil observasi kelas dari guru lain dan umpan balik dari siswa. 

  1. Latihan Praktik Coaching di sekolah
    memberi umpan balik pelaksanaan coaching dan membuat rencana perbaikan coaching rekan sejawat

5

  1. Diskusi hasil Lokakarya 5 dan modul 3.1 

  • Diskusi hasil pemetaan sumber daya
  • Refleksi proses pembuatan peta sumber daya (cek lembar refleksi)

  1. Refleksi capaian kompetensi di bulan ke-5 dan mengapresiasi capaian Guru Penggerak

6

  1. Refleksi penerapan rencana program yang dibuat di Lokakarya 6
    Diskusi progress program sekolah yang berdampak pada murid
  2. Diskusi tantangan yang dihadapi dan solusi yang dilakukan

7

  1. Refleksi perubahan dalam pembelajaran yang sudah diterapkan selama 6 bulan, diskusikan dampak pada diri guru dan murid yang terjadi
  2. Refleksi penerapan Komunitas Praktisi dan perubahan yang terjadi pada rekan sejawat
  3. Diskusi rencana belajar mandiri

8

  1. Refleksi penerapan aksi nyata hasil Lokakarya 8

  • Diskusi terkait sosialisasi rencana kerja
  • Proses sosialisasi
  • Tanggapan ekosistem sekolah terkait sosialisasi rencana kerja
  • Rencana kerja menjadi bagian dari program sekolah
  • Program yang masuk menjadi bagian dari program sekolah

  1. Refleksi dampak pendampingan selama 9 bulan
  2. Diskusi rencana belajar mandiri dan berkelanjutan di Komunitas Praktisi

Persiapan Pendampingan Individu

  1. Melakukan koordinasi dengan penyelenggara Program Pendidikan Guru Penggerak terkait dengan jadwal pendampingan; 
  2. Bacalah profil Calon Guru Penggerak yang akan anda dampingi sebelum pertemuan; 
  3. Tulislah tujuan pendampingan di setiap pertemuan pada Coaching Log 
  4. Komunikasikanlah tujuan pendampingan kepada Calon Guru Penggerak sebelum memulai kegiatan pendampingan; 
  5. Pelajari fokus pendampingan bulanan dan materi-materi yang berkaitan; 
  6. Dalam pendampingan, pendamping berperan untuk mengapresiasi pencapaian dan upaya implementasi yang sudah dilakukan Calon Guru Penggerak, memotivasi, mendiskusikan bersama solusi untuk tantangan dan kendala yang dihadapi, serta membantu Calon Guru Penggerak menemukan pembelajaran-pembelajaran dalam setiap prosesnya; 
  7. Jika fokus pendampingan berkaitan dengan penugasan pada fase pendidikan daring, sempatkan diri untuk mempelajari hasil yang dikumpulkan oleh setiap Calon Guru Penggerak pada portal belajar (learning management system) PGP atau bagian Jurnal Komunikasi dengan fasilitator; 
  8. Baca kembali catatan-catatan pada coaching log untuk mengetahui pembahasan pada pertemuan sebelumnya.

Tips Memberikan Umpan Balik Saat Coaching

  1. Pendamping yang berperan sebagai pemberi umpan balik diharapkan hadir sepenuhnya sehingga dapat fokus pada CGP yang adalah penerima umpan balik. 
  2. Hindari melakukan/memberikan coaching dan/atau umpan balik disaat yang sulit, misalnya ketika jam sibuk anda sebagai Pendamping. 
  3. Bersabarlah dalam memberikan umpan balik/coaching. Menguatkan kualitas kesabaran dapat memampukan Pendamping untuk bisa merespon pada saat yang tepat dan mampu memberikan ruang kepada CGP untuk bicara. 
  4. Bangunlah rasa ingin tahu sebagai pendamping dan hindari pemberian nasihat atau solusi secara langsung. Fokuskan rasa ingin tahu sebagai pendamping pada ucapan yang disampaikan CGP. 
  5. Dalam memberikan umpan balik, mulailah dengan menyepakati topik pembicaraan dan hasil pembicaraan yang diharapkan. 
  6. Hubungkan fakta-fakta berdasarkan kejadian-kejadian yang dihadapi selama proses pendidikan. 
  7. Bersama-sama dengan CGP, kembangkan ide sebagai alternatif solusi
  8. Bersama dengan CGP, perkuat komitmen untuk proses selanjutnya.

Panduan Pengisian Coaching Log

  1. Tuliskan topik pembahasan pendampingan yang akan dilakukan. 
  2. Tulislah hal-hal yang dibahas/dibicarakan selama proses coaching berlangsung
  3. Nilailah apakah proses coaching yang sudah berlangsung sudah sesuai/lebih cepat/lebih lambat dari topik pendampingan yang telah tersedia. 
  4. Berikan status selesai/belum selesai untuk proses coaching pada saat pendampingan
  5. Tuliskan catatan yang perlu diperhatikan ketika proses pendampingan selanjutnya. 
  6. Tuliskan hal-hal tambahan yang dibutuhkan CGP selama pendampingan. 
  7. Buatlah/tuliskan rencana tindak lanjut untuk proses pendampingan selanjutnya.


PELAKSANAAN PENDAMPINGAN INDIVIDU 4

Waktu    : 1 Minggu sebelum lokakarya 5

BAHAN PENDAMPINGAN INDIVIDU 4

Bahan     : Lembar Observasi Proses Praktek Coaching Model Tirta (untuk Pengamat)


LANGKAH-LANGKAH PENDAMPINGAN


A. Bagian awal pendampingan

  1. Menyiapkan lembar observasi yang akan digunakan. Lembar observasi yang dimaksud merupakan lembar observasi yang sama dengan yang digunakan saat simulasi tatap muka virtual dengan fasilitator 
  2. Menyapa dan menanyakan kabar Calon Guru Penggerak 
  3. Tanyakan apa saja proses yang sudah berjalan selama satu bulan terakhir dan hal-hal yang dianggap sebagai capaian selama satu bulan tersebut 
  4. Apresiasi kemajuan-kemajuan yang disampaikan oleh Calon Guru Penggerak
B. Bagian inti pendampingan 
  1. Jelaskan tujuan khusus pendampingan 
  2. Diskusi terkait praktik coaching bersama rekan sejawat: 
    • Sebelum melakukan praktik coaching, Pendamping/ Pengajar Praktik mendiskusikan rencana coaching yang terdapat dalam lembar observasi (di lampiran). 
    • Calon Guru Penggerak bersama rekan sejawat yang sudah diminta untuk latihan coaching mempraktikkan coaching di depan Pendamping/Pengajar Praktik (rekan sejawat menjadi coachee). 
    • Pendamping/Pengajar Praktik memberikan umpan balik terhadap praktik coaching pada lembar observasi yang telah diisi di bagian komentar. 
    • Setelah Calon Guru Penggerak bersama rekan sejawat praktik coaching, Calon Guru Penggerak dan rekan sejawatnya dipandu melakukan refleksi setelah praktik coaching dengan menggunakan pertanyaan kunci: 
      • Menurut Bapak/ Ibu apa saja hal baik dari praktik coaching yang sudah dilakukan? 
      • Apa saja hal yang menurut Bapak/ Ibu perlu ditingkatkan dari praktik coaching-nya? 
      • Bagaimana perasaan Bapak/ Ibu setelah melakukan praktik coaching pada rekan Bapak/ Ibu? 
    • Mintakan juga refleksi rekan sejawatnya: 
    • Menurut Bapak/ Ibu, bagaimana Bapak/ Ibu CGP dalam mempraktikkan coaching kepada Anda? 
    • Apa hal baik yang Anda rasakan dari praktik coaching ini? 
    • Jika ada yang perlu dikembangkan, bagian mana yang menurut Bapak/ Ibu perlu dikembangkan lebih lanjut
  3. Diskusi observasi kelas oleh rekan sejawat dengan pertanyaan kunci: 
    • Bagaimana pengalaman Bapak/ Ibu ketika meminta rekan guru lain mengobservasi praktik pembelajaran yang Bapak/ Ibu lakukan di ruang kelas? 
    • Menurut Bapak/ Ibu, bagaimana praktik pengajaran yang terjadi saat dilakukan observasi? 
    • Apa komentar rekan guru yang mengobservasi setelah melakukan observasi praktik mengajar Bapak/ Ibu? Apa hal-hal yang sudah baik yang sudah Bapak/ Ibu lakukan di kelas dan apa hal-hal yang menurutnya perlu Bapak/ Ibu perbaiki? 
    • Apa hal yang ingin Bapak/ Ibu ketahui atau perbaiki setelah melakukan praktik mengajar tersebut berdasarkan respons dari murid Bapak/Ibu? 
  4. Diskusi mengenai aksi nyata modul 2.1 dan 2.2 (Pendamping/Pengajar Praktik melihat serta bagaimana tugasnya) 
    • Bagaimana tugas aksi nyata modul 2.1 dan 2.2 yang Bapak/ Ibu sudah coba kerjakan? Adakah kendala/ kesulitan yang dihadapi? 
    • Bagaimana perasaan Bapak/ Ibu selama mengerjakan tugas tersebut? 
    • Apa hal yang bisa Bapak/ Ibu ambil pelajarannya dari mengerjakan tugas tersebut? 
    • Apa rencana atau perbaikan ke depannya berdasarkan aksi nyata tersebut?
C. Bagian akhir pendampingan
  1. Melakukan refleksi terhadap proses pendampingan saat ini: 
    • Setelah Bapak/ Ibu menjalani program PGP ini apa hal yang menurut Bapak/ Ibu paling Bapak/Ibu kuasai dari materi-materi yang sudah dipraktikkan? 
    • Materi apa yang Bapak/ Ibu rasakan masih membingungkan dan ingin dipelajari lebih dalam? 
  2. Mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih telah berbagi praktik baik yang sudah dilakukan dari pembelajaran daring. 
  3. Memotivasi untuk tetap mencoba meminta umpan balik dari rekan guru, murid, dan mempraktikkan coaching baik ke rekan guru lainnya atau ke murid. 
  4. Pendamping/ Pengajar Praktik mengingatkan CGP untuk mengisi Lembar Pengecekan Mandiri Kompetensi untuk Lokakarya 5 
  5. Pendamping/ Pengajar Praktik melakukan pendokumentasian lembar observasi yang telah diisi, kemudian memberikan lembar tersebut kepada CGP untuk dipelajari kembali 
  6. Melakukan penilaian terhadap proses refleksi Calon Guru Penggerak berdasarkan rubrik pada lampiran. 
  7. Mengisi Jurnal Pendampingan dalam LMS, mengisi daftar hadir, dan rencana pendampingan selanjutnya. 
  8. Jika ada hal-hal terkait pembelajaran daring yang perlu diketahui oleh fasilitator, maka perlu dicatat dalam Jurnal Komunikasi di LMS.


SALAM GURU PENGGERAK

GURU BERGERAK, INDONESIA MAJU



Kamis, 21 April 2022

LAPORAN PELAKSANAAN LOKAKARYA 4 “GURU BERPIHAK PADA MURID”

I.            PENGANTAR

Tujuan Belajar

Calon guru penggerak dapat mengaplikasikan tahapan coaching pada rekan sejawat dan dapat menyusun RPP yang mengutamakan diferensiasi murid.

Indikator Keberhasilan

  1. Calon guru penggerak dapat mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, dan strategi perbaikan diri dalam pengajaran yang berpihak pada murid
  2. Calon guru penggerak dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dalam melakukan coaching
  3. Calon guru penggerak dapat menyusun RPP yang mengutamakan diferensiasi murid.

 

Agenda

  1. Refleksi Komitmen
  2. Pemetaan diri dalam pengajaran
  3. Praktek coaching
  4. Penyusunan RPP “Berpihak pada Murid”

Target Peserta dan Peran Terlibat

Target Peserta: 
Dari Calon Guru Penggerak Kota Pematangsiantar, 9orang Calon Guru Penggerak bergabung dalam kelas B yakni:

 

NO

NAMA CGP

SEKOLAH ASAL CGP

1

DESTU SUPRI D. LUMBAN GAOL

SMP SWASTA METHODIST PEMATANGSIANTAR

2

RISNI M SIDAURUK

SMPN 2 PEMATANGSIANTAR

3

VICTORY BUDI ABADI S

SMP SWASTA RK BINTANG TIMUR PEMATANGSIANTAR

4

RUDIANTO TAMBUNAN

SMP SWASTA RK BINTANG TIMUR PEMATANGSIANTAR

5

BEBASUKI

SMKS MELATI

6

QOIRIYANI POHAN

SMK KARTINI YPI AL - MADJID

7

RIAMSAH SIHOTANG

SMKS PERSIAPAN

8

SRI SOFIAN

SMKS PERSIAPAN

9

SRI SUNARTY OMPUSUNGGU

SMKS PERSIAPAN

 

Peran Terlibat:

  1. Pengajar Praktik (PP) (2 orang) yakni :

Beslon Samosir, S.Pd., M.Pd

Ikot Nasib Simanullang, S.Pd

  1. Panitia dari Kemdikbud
  2. Panitia local Dinas Pedidikan Kota Pematangsiantar dan Cabang Dinas Pendidikan Siantar

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

1.   Waktu Pelaksanana:

Selasa 19 April 2022

2. Tempat:

Convention Hall Lantai 1 Siantar Hotel Pematangsiantar, Jl. WR. Supratman No 3 Pematangsiantar.

 

Keterangan Tambahan

Sebelum Lokakarya 4:

Calon Guru Penggerak Membawa RPP dari tugas dari Modul 2.1 dan membawa dokumen aksi jangka pendek dari Lokakarya 3

Tugas Lokakarya 4:

Calon Guru Penggerak ditugasi  dengan Penyusunan RPP “Berpihak pada Murid” dan penerapan di kelas, Penerapan strategi coaching di sekolah, dan umpan balik murid dan rekan sejawat

 

II.       AKTIVITAS PEMBELAJARA LOKAKARYA 4

 

SESI 1: PEMBUKAAN

DURASI: 30 MENIT

TUJUAN SESI:

  • Calon Guru Penggerak mengetahui target belajar yang akan dicapai pada pertemuan lokakarya 4
  • Calon Guru Penggerak memahami dan melaksanakan kesepakatan untuk mendukung tercapainya target belajar
PERLENGKAPAN YANG DIBUTUHKAN:

  • Laptop (ada playlist lagu)
  • Speaker
  • Kertas plano
  • Kertas post-it
  • Spidol whiteboard
PEMBUKAAN & ICE BREAKING (15 menit)

Persiapan:

     Disiapkan papan plano dan sejumlah kertas plano kosong yang dibutuhkan

    Disiapkan laptop, playlist lagu, dan speaker untuk ice breaking

Pelaksanaan:

Pengajar Praktik (PP) membuka kegiatan dengan sapaan yang ceria untuk membangkitkan semangat Calon Guru Penggerak setelah 1 bulan tidak berjumpa. Calon Guru Penggerak diajak melakukan icebreaking untuk menciptakan suasana yang cair di dalam ruangan. Judul ice breaking ini adalah “TANYA & TEMUKAN”.

Musik dimainkan selama 30 detik, lalu para Pengajar Praktik (PP) memantau apakah ada Calon Guru Penggerak yang belum menemukan kelompok hingga akhir. Jika pembentukan kelompok belum selesai, bisa ditambahkan 30 detik lagi. Jika sampai akhir permainan masih ada Calon Guru Penggerak yang belum membentuk kelompok, maka para Pengajar Praktik (PP) membantu untuk langsung mengelompokkan anggota tersebut.

Pada permainan ini setelah 2 kali pemutaran musik, semua Calon Guru Penggerak sudah menemukan kelompoknya. Terbentuklah 3 kelompok dengan nama Kelompok Desesember, Kelompok September dan Kelompok JULIA (Juni-Juli-Agustus). Masing-masing kelompok beranggotakan 3 orang Calon Guru Penggerak.

 Setelah melakukan ice breaking, Pengajar Praktik (PP) memberikan refleksi mengenai pentingnya menemukan kesamaan dalam kerja bersama agar dapat memiliki satu tujuan dan visi yang sama dalam mendidik.

FOTO BERSAMA PENGAJAR PRAKTIK DAN PANITIA 
SEBELUM PEMBUKAAN LOKAKARYA 4

 

FOTO CGP ICE BREAKING “TANYA DAN TEMUKAN”


PENGANTAR SESI & KESEPAKATAN BERSAMA (15 menit)

Persiapan:

Dituliskan 3 target belajar di lokakarya

Dituliskan 4 agenda utama dalam lokakarya 4

Pelaksanaan:

Pengajar Praktik (PP): Beslon Samosir.

Memberikan informasi kepada Calon Guru Penggerak tentang target belajar yang akan dicapai dalam pertemuan lokakarya 4. Pengajar Praktik (PP) sudah menuliskan terlebih dahulu sebelum lokakarya pada power point, kemudian menunjukkannya pada Calon Guru Penggerak di depan kelas.

 Sebelum kegiatan dimulai, Pengajar Praktik (PP) mengarahkan pembuatan kesepakatan yang akan dipatuhi bersama selama lokakarya. Hal ini dilakukan sama seperti bulan lalu, dimana Pengajar Praktik (PP) menanyakan hal-hal apa saja yang penting untuk dilakukan bersama selama kegiatan untuk mendukung tercapainya tujuan lokakarya. Contoh : semua guru terlibat aktif berpendapat dan bekerja, tidak memegang handphone selama kegiatan kecuali di jam istirahat atau untuk mengangkat telepon penting, dan lainnya.

 

KESEPAKATAN KELAS B LOKAKARYA 4

  

SESI 2: REFLEKSI KOMITMEN

DURASI: 30 MENIT

TUJUAN SESI:
  • Calon Guru Penggerak mampu merefleksikan perasaan atas pengalaman melaksanakan komitmen bulan lalu
  • Calon Guru Penggerak menghargai diri sendiri dan rekan sejawat dalam proses pencapaian mimpi
PERLENGKAPAN YANG DIBUTUHKAN:
  • Kertas plano
  • Kertas post-it
  • Spidol kecil warna-warni
  • Spidol white board


REFLEKSI PRIBADI (10 menit)

Persiapan:

Telah disiapkan kertas post-it, spidol kecil, dan spidol white board

Calon Guru Penggerak diminta menyiapkan lembar komitmen dari Lokakarya 3

Pelaksanaan:

Pengajar Praktik (PP): Beslon Samosir

Memastikan setiap kelompok berisi 3 Calon Guru Penggerak dan mengarahkan Calon Guru Penggerak untuk merefleksikan komitmen yang telah dibuat satu bulan yang lalu.

Pengajar Praktik (PP) utama (Beslon Samosir) meminta Pengajar Praktik (PP): Ikot Manullang untuk berkeliling dan melihat “LEMBAR KOMITMEN” setiap Calon Guru Penggerak yang telah dibuat bulan lalu sambil memegang kertas post-it yang akan dibagikan pada Calon Guru Penggerak. Pengajar Praktik (PP) utama menyiapkan kertas plano kosong di depan ruangan. Setelah itu, Pengajar Praktik (PP) utama mengajak Calon Guru Penggerak untuk merefleksikan pelaksanaan komitmen bulan lalu.







PP MENDAMPINGI CGP MENGISI POST-IT KOMITMEN




FOTO-FOTO CGP MENEMPELKAN POST-IT KOMITMEN DI PLANO

 

Pengajar Praktik (PP) utama meminta rekan Pengajar Praktik (PP) lainnya untuk mengarahkan Calon Guru Penggerak menulis sesuai ketentuan dan menempelkan di kertas plano. Lalu, sembari Calon Guru Penggerak bercerita di dalam kelompok, Pengajar Praktik (PP) lain segera menyusun dan mengelompokkan kertas post-it yang berisikan kata kunci yang sama. Pengajar Praktik (PP) lain menuliskan kesimpulan dari kata kunci apa saja yang ditemukan. Tuliskan kembali di kertas plano sebanyak 10-12 kata kunci yang mewakili perasaan, pikiran, keberhasilan, atau kesulitan seluruh Calon Guru Penggerak dalam melaksanakan komitmen bulan lalu.





https://youtu.be/mDlEg2z0MMU 

PP MERUMUSKAN KATA KUNCI DARI POST-IT CGP

 

REFLEKSI KELOMPOK (20 menit)

Persiapan:

Tuliskan panduan refleksi kelompok

Mintalah Calon Guru Penggerak duduk berkelompok seperti kelompok awal

Kelompokkan kertas post-it yang telah ditulis peserta di refleksi pribadi menjadi 10-12 kata kunci

 

Pelaksanaan:

Setelah Calon Guru Penggerak kembali ke dalam kelompok, Pengajar Praktik (PP) meminta setiap Calon Guru Penggerak bercerita secara bergiliran (masing-masing 2 menit) untuk menceritakan pengalaman selama 1 bulan kemarin dan menceritakan hal yang sudah baik dilakukan dan kesulitan selama melaksanakan komitmen. Pengajar Praktik (PP) menunjukkan kertas plano di depan ruangan yang telah bertuliskan 3 pertanyaan refleksi untuk didiskusikan bersama di dalam kelompok. 



CGP BERCERITA DALAM KELOMPOK TENTANG REFLEKSI KOMITMEN

 

Setelah selesai bercerita di dalam kelompok, kemudian Pengajar Praktik (PP) meminta seluruh Calon Guru Penggerak menghadap ke arah Pengajar Praktik (PP) kembali. Pengajar Praktik (PP) meminta izin ada 3 perwakilan untuk bercerita di depan pleno.

 





3 PERAKILAN CGP MENCERITAKAN DI DEPAN PLENO

 

Setelah ketiga Calon Guru Penggerak bercerita, Pengajar Praktik (PP) meminta Calon Guru Penggerak untuk bertepuk tangan mengapresiasi ketiga Calon Guru Penggerak. Kemudian, Pengajar Praktik (PP) menunjukkan kembali dan membuka kertas plano yang bertuliskan kata kunci dari Calon Guru Penggerak yang telah dikelompokkan. Pengajar Praktik (PP) menyebutkan kesimpulan dari kata kunci yang ada berisikan 10-12 kata kunci yang menggambarkan pengalaman para Calon Guru Penggerak sebulan lalu.

Pengajar Praktik (PP) memberikan motivasi kepada Calon Guru Penggerak atas kesimpulan pengalaman yang telah disebutkan. Setelah itu, Pengajar Praktik (PP) meminta Calon Guru Penggerak untuk mengapresiasi rekan di dalam kelompoknya.

Apresiasi rekan sejawat ini penting dilakukan agar satu sama lain dapat saling mendukung dalam proses belajar ini. Pengajar Praktik (PP) memuji dan memberikan tepuk tangan kepada Calon Guru Penggerak yang telah berjuang sampai sejauh ini.

 

SESI 3: PEMETAAN DIRI & PRAKTEK COACHING

DURASI: 60 MENIT

TUJUAN SESI: 

  • Calon Guru Penggerak mampu melakukan penyadaran napas sebagai bentuk penghargaan pada diri sendiri
  • Calon Guru Penggerak mampu mengidentifikasi kondisi diri dalam pengajaran
  • Calon Guru Penggerak mampu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam mempraktekkan strategi coaching

PERLENGKAPAN YANG DIBUTUHKAN:
  • Lembar instruksi penyadaran napas
  • Playlist lagu
  • Speaker
  • Lembar penugasan coach
  • Lembar penugasan observer
  • Lembar pemetaan diri
  • Alat tulis


PENYADARAN NAPAS (10 menit)

Persiapan:

    Siapkan 1 lembar instruksi penyadaran napas

Pelaksanaan:

Pengajr Praktik (PP): Ikot Simanullang

Tanggung jawab guru dalam mengajar murid, menghadapi murid setiap hari, menjalankan tugas tambahan di sekolah, menuntaskan tugas administrasi, bisa jadi dijalankan dengan penuh semangat tetapi bisa juga dijalankan dengan penuh keluhan. Di sesi ini, Pengajar Praktik (PP)

berusaha menguatkan Calon Guru Penggerak untuk menjadi teladan dalam menjalankan tanggung jawab tetapi juga dengan memperhatikan kondisi diri sendiri.

 



PP 2 MEMBERIKAN ARAHAN PENYADARAN DIRI METODE S-T-O-P

 

Pengajar Praktik (PP) yang lain memanggil salah satu Calon Guru Penggerak dan memberikan lembar instruksi penyadaran napas dengan metode STOP (terdapat di lampiran). Pengajar Praktik (PP) meminta Calon Guru Penggerak membacakan keseluruhan instruksi dengan perlahan dan suara yang lembut kepada seluruh Calon Guru Penggerak.

Di setiap tahapan S – T – O – P, Pengajar Praktik (PP) meminta perwakilan Calon Guru Penggerak yang menjadi instruktur untuk memberikan jeda sebelum lanjut ke tahapan berikutnya.

 




https://youtu.be/J8oA8X8Oeig

PENYADARAN NAFAS DENGAN METODE S-T-O-P

 

Setelah selesai sesi penyadaran napas, Pengajar Praktik (PP) mengajak Calon Guru Penggerak lain untuk mengapresiasi Calon Guru Penggerak yang telah menjadi instruktur dan mempersilahkannya duduk.

    

PEMETAAN DIRI (25 menit)

Persiapan:

    Siapkan 1 lembar kerja pemetaan diri

    Tuliskan definisi coaching di kertas plano   

    Tuliskan panduan pemetaan diri di kertas plano

 

Pelaksanaan:

Pengajar Praktik (PP) : Ikot Simanullang

Memberi penguatan kembali bahwa fase “mengambil jeda” melalui kegiatan olah napas seperti tadi adalah salah satu fase penting untuk mengumpulkan kekuatan lagi bagi diri sendiri. Setelah itu, barulah Calon Guru Penggerak akan lebih ‘siap’ melakukan tanggung jawab mengajar kembali. Setelah berhasil mengelola diri sendiri, Calon Guru Penggerak akan berlatih mengelola atau membimbing orang lain. Strategi yang akan digunakan dalam membantu orang lain menemukan dan memutuskan strategi kemajuannya adalah coaching. Jelaskan bahwa coaching dapat dilakukan pada rekan sejawat maupun murid karena strategi ini memperhatikan kondisi awal, karakter, serta kebutuhan orang lain.

Ditanyakan pada Calon Guru Penggerak apakah mereka masih ingat apa itu coaching. Kemudian, tunjukkan tulisan pengertian “coaching” yang ada di kertas plano di depan ruang kelas atau tulis di papan tulis.

Sebelum dilakukan praktek coaching, Pengajar Praktik (PP) mengajak seluruh Calon Guru Penggerak untuk berproses menjadi coachee terlebih dahulu. Artinya, coachee adalah orang yang dibimbing. Berdasarkan cerita pada sesi pertama tentang dinamika dalam melaksanakan komitmen, maka ada harapan dari masing-masing calon guru penggerak untuk memperbaiki diri dan mengalami kemajuan dalam mendidik siswa.

Pengajar Praktik (PP) meminta Calon Guru Penggerak untuk memetakan diri dengan lebih spesifik dalam melakukan pengajaran yang berpihak pada murid. Poin penting tentang pemetaan diri dituliskan di kertas plano. Sedangkan, lembar pemetaan diri sudah dicetak sesuai jumlah Calon Guru Penggerak.

  


PEMETAAN DIRI CGP KELAS B

 


LEMBAR PEMETAAN DIRI CGP KELAS B DITEMPAL DI PLANO

Selama menunggu Calon Guru Penggerak menulis, Pengajar Praktik (PP) dan rekan Pengajar Praktik (PP) lainnya menyiapkan kertas plano di depan ruangan untuk menuliskan pengalaman Calon Guru Penggerak di forum besar nantinya.



PRAKTEK COACHING (25 menit)

Persiapan:

    Tuliskan di kertas plano atau di presentasi mengenai tabel panduan coaching

    Tuliskan di kertas plano tentang panduan diskusi praktek coaching

    Siapkan lembar penugasan untuk coach (dicetak dari bagian lampiran)

    Siapkan lembar penugasan untuk observer (dicetak dari bagian lampiran)

 

Pelaksanaan:

Pengajar Praktik (PP) meminta Calon Guru Penggerak untuk kembali duduk dengan kelompok. Kemudian Pengajar Praktik (PP) mempersiapkan Calon Guru Penggerak untuk praktek. Lembar pemetaan diri tadi akan dipakai sebagai bahan coaching. Calon Guru Penggerak ditanyakan kembali pemahamannya tentang prinsip coaching menggunakan model TIRTA. Materi ini dapat Pengajar Praktik (PP) baca di modul 2.3 untuk pelatihan Calon Guru Penggerak. Langkah-langkah praktek coaching dengan model TIRTA:


 

MODEL TIRTA DALAM COACHING

Setelah Calon Guru Penggerak mewakili Calon Guru Penggerak lain dan menyebutkan T – I – R – T – A, kemudian Pengajar Praktik (PP) menunjukkan tabel berisi tiap tahapan, penjelasan tiap tahapan, dan contoh pertanyaan dalam tiap tahapan.  Tabel ini sudah dituliskan di presentasi power point sebelum lokakarya dimulai.

 

No

Langkah dalam Model Tirta

Contoh Pertanyaan / Pernyataan

1.

Tujuan

Menyampaikan tujuan coaching tentang menggali potensi dan strategi pengembangan diri coachee

   Apa yang kamu harapkan dari pertemuan kita hari ini?

   Hasil apa yang ingin dicapai?

   Dalam pertemuan, fokus tujuan kita ……

   Agenda yang akan kita diskusikan ………

2.

Identifikasi

Memberikan pertanyaan-pertanyaan dan umpan balik yang mengarah pada identifikasi potensi coachee

   Apakah hal terpenting di hidupmu saat ini?

   Apa mimpi yang ingin dicapai?

   Apa hambatan yang dialami dalam proses?

   Bagaimana kamu mengatasinya?

   Seberapa efektif itu menurutmu?

   Dari skala 1-10, saat ini posisimu ada di angka berapa untuk mencapai mimpi itu?

3.

Rencana Aksi

Memberikan pertanyaan-pertanyaan dan umpan balik mengenai rencana aksi coachee dalam menyelesaikan permasalahannya

   Apa hal pertama yang menurutmu penting untuk dilakukan demi mencapai mimpi itu?

   Hal-hal apa saja yang akan kamu lakukan agar bisa mencapai tujuan?

   Jika ada hambatan lagi, apa saja yang akan kamu lakukan?

   Apakah penandanya bahwa kamu menyebut dirimu berhasil?

4.

Tanggung Jawab

Memberikan pertanyaan-pertanyaan dan umpan balik mengenai komitmen coachee dalam menjalankan rencana aksinya

   Bantuan apa saja yang akan dicari untuk mendukung tindakanmu?

   Tiga hal pertama yang akan dikerjakan.

   Silahkan menyimpulkan apa yang kamu dapat dari pertemuan kita hari ini

 

Pengajar Praktik (PP) meminta rekan Pengajar Praktik (PP) lainnya untuk menyiapkan lembar praktek yang terdiri dari: (1) lembar peran coach dan (2) lembar penilaian coaching oleh observer.

(lembar peran dan lembar penilaian terdapat di lampiran dan dicetak sebelumnya sesuai kebutuhan)

Rekan Pengajar Praktik (PP) kemudian membagikan kertas ini kepada Calon Guru Penggerak yang berperan sebagai coach dan observer di masing-masing kelompok.

 

PRAKTEK COACHING KELAS B

 

Link Video praktik Coaching yang terlaksana pada lokakarya 4:

https://youtu.be/g1iPLq5pOLU

https://youtu.be/t8gkKSe5bzM

 

Setelah praktek, Pengajar Praktik (PP) meminta setiap orang untuk bercerita mengenai perasaan dan pengalaman yang didapatkan di kelompok. Cerita didasarkan pada 2 pertanyaan kunci untuk setiap peran. Silahkan menuliskan di kertas plano di depan ruang kelas atau menampilkan di presentasi.

Proses diskusi berjalan kurang lebih 5 menit, kemudian Pengajar Praktik (PP) meminta Calon Guru Penggerak untuk duduk menghadap ke depan. Pengajar Praktik (PP) meminta 1 perwakilan coach, 1 perwakilan coachee, dan 1 perwakilan observer untuk menceritakan proses yang terjadi di kelompoknya. Cerita didasarkan pada pertanyaan panduan yang telah ditampilkan. Setelah itu, Pengajar Praktik (PP) menyimpulkan cerita pengalaman Calon Guru Penggerak. Pengajar Praktik (PP) dapat memberikan apresiasi pada Calon Guru Penggerak dengan berbagai cara seperti yang telah dipraktekkan di lokakarya-lokakarya sebelumnya.

   

NAMA SESI: RPP yang Berpihak pada Murid

DURASI: 90 MENIT

TUJUAN SESI:

     Calon Guru Penggerak mampu melakukan identifikasi mengenai prinsip diferensiasi murid dalam RPP yang telah disusun

     Calon Guru Penggerak mampu menyusun RPP “Berpihak pada Murid” yang mengutamakan diferensiasi murid

PERLENGKAPAN YANG DIBUTUHKAN:

     Kertas plano

     Spidol kecil warna-warni

     Spidol whiteboard

     Kertas Post-it

     Lem kertas

 

 

ENERGIZER (10 menit)

Persiapan:

    Siapkan 1 cerita yang didalamnya terdapat unsur kata covid, kebakaran, dan gempa

 

Pelaksanaan:

Pengajar Praktik: Beslon Samosir.

Pengajar Praktik (PP) melihat kondisi Calon Guru Penggerak. Jika Calon Guru Penggerak tampak mulai bosan, Pengajar Praktik (PP) dapat memimpin permainan untuk energizing yaitu “BENCANA”.

 

 PENGAMATAN RPP (15 menit)

Persiapan:

     Peserta sudah mempersiapkan tugas RPP yang telah dibuat pada pelatihan di Modul 2.2

    Lembar identifikasi RPP sudah disiapkan.

 Pelaksanaan:

Setelah memahami keterampilan yang penting untuk mengelola diri sendiri (melalui strategi olah napas) serta keterampilan untuk mengembangkan orang lain (melalui strategi coaching), maka seorang guru akan lebih siap untuk menyesuaikan pengajaran dengan kondisi murid.

Mengajar tidak hanya sekedar menyampaikan materi tetapi juga memastikan bahwa materi ini berguna untuk murid, sesuai dengan kebutuhan murid, dan proses penyampaiannya mengikuti karakter murid. Diferensiasi murid dalam hal ini sangat perlu dipertimbangkan. Maka, Pengajar Praktik (PP) bertugas untuk memandu Calon Guru Penggerak dalam memastikan kembali RPP yang sudah mereka buat berdasarkan kriteria diferensiasi yang sudah dipelajari di Modul 2.1 pada pelatihan daring.

Pengajar Praktik (PP) memastikan setiap Calon Guru Penggerak membawa RPP yang pernah mereka buat secara mandiri setelah pelatihan guru penggerak Modul 2.1 tentang Pembelajaran Berdiferensiasi. Pengajar Praktik (PP) memberikan instruksi kepada kelompok untuk mengidentifikasi komponen diferensiasi dalam RPP yang sudah disusun. Calon Guru Penggerak diberi waktu 5 menit untuk presentasi dan identifikasi. Lembar identifikasi diprint dari lampiran. Satu kelompok memegang satu lembar identifikasi RPP Berpihak pada Murid.

Lembar Indentifikasi RPP yang Berpihak Pada Murid yang sudah dikerjakan Calon Guru Penggerak, beserta RPP yang diidentifikasi ada pada lempira di folder yang berbeda.

Pengajar Praktik (PP) memastikan seluruh kelompok telah memberikan penilaian terhadap RPP yang dipresentasikan. Pengajar Praktik (PP) menanyakan apakah ada RPP yang telah benar-benar direncanakan dan diterapkan dengan memperhatikan komponen diferensiasi dan meminta Calon Guru Penggerak pemilik RPP untuk mempresentasikan di depan.

 

PENYUSUNAN RPP (65 menit)

Persiapan:

    Siapkan kertas plano kosong sejumlah kelompok Calon Guru Penggerak

    Siapkan kertas post-it, spidol kecil, spidol whiteboard, dan lem kertas

 

Pelaksanaan:

Pengajar Praktik (PP) memberikan lembar identifikasi RPP yang dijadikan panduan untuk membuat tugas RPP “Berpihak kepada Murid”. Calon Guru Penggerak diberikan waktu 30 menit untuk membuatnya dalam kelompok.


PENYUSUNAN RPP BERDIFRENSIASI

 

Setelah 30 menit berlalu, setiap kelompok diminta untuk menempelkan plano RPP yang ada dan menandai bentuk diferensiasi apa yang dipakai dan muncul di bagian mana dalam RPP. Setiap kelompok membagi tugas, 1 orang berjaga untuk presentasi dan 2 orang berkeliling untuk melihat RPP milik kelompok lain. Pengajar Praktik (PP) memberikan waktu 10 menit untuk berkeliling melihat RPP yang dibuat kelompok lain. Rekan Pengajar Praktik (PP) lain mengecek keaktifan Calon Guru Penggerak dan mengecek durasi waktu.

 


RPP BERDIFRENSIASI YANG DISUSUN PERKELOMPOK

 Setelah 10 menit berlalu, minta seluruh calon guru penggerak untuk kembali ke dalam kelompok. Kemudian, Pengajar Praktik (PP) meminta setiap kelompok melakukan revisi atas saran dan masukan dari Calon Guru Penggerak lain untuk RPP yang telah disusun. Setiap kelompok diberikan waktu 15 menit untuk melakukan revisi.

Pengajar Praktik (PP) arahkan agar kumpulan RPP didokumentasikan dan digabungkan dalam 1 folder. Setelah itu, kumpulan RPP ini diserahkan kepada ketua kelas dan ketua kelas akan membagikan melalui grup wa atau email kepada seluruh Calon Guru Penggerak dan Pengajar Praktik (PP). Pengajar Praktik (PP) memberikan jeda waktu 10 menit.

 

 

NAMA SESI: Penutupan

DURASI: 30 MENIT

TUJUAN SESI:

     Calon Guru Penggerak dapat merefleksikan pelajaran berharga apa saja yang diperoleh dari Lokakarya 4

     Calon Guru Penggerak memahami penugasan dan bersedia melakukannya dalam waktu 1 bulan ke depan

PERLENGKAPAN YANG DIBUTUHKAN:

     Bola kecil

 

 KAIZEN (15 menit)

Persiapan:

    Siapkan 1 bola kecil

    Tuliskan panduan kaizen di kertas plano

Pelaksanaan:

Setelah penyusunan RPP selesai, Pengajar Praktik (PP) menutup kegiatan melalui sesi Kaizen. Seluruh Calon Guru Penggerak diminta membereskan barang-barangnya terlebih dahulu. Setelah itu, Pengajar Praktik (PP) meminta seluruh Calon Guru Penggerak untuk berdiri dan membentuk lingkaran bersama dengan Pengajar Praktik (PP) lainnya. Pengajar Praktik (PP) akan memandu dalam melaksanakan Kaizen. Kaizen merupakan sesi refleksi penutupan dimana Calon Guru Penggerak merefleksikan keseluruhan proses yang dialami dan mengambil hikmah dari pertemuan. Pengajar Praktik (PP) akan mengajukan 2 pernyataan untuk dijawab oleh seluruh Calon Guru Penggerak dan Pengajar Praktik (PP) (tanpa kecuali) di dalam lingkaran kelompok. Pertanyaannya adalah: (1) Pelajaran berharga apa yang diperoleh hari ini dan akan diteruskan di tempat bertugas, (2) Hal baik apa yang saya dapatkan dari Pengajar Praktik (PP) atau rekan sejawat dan menjadi inspirasi untuk saya. Panduan pertanyaan ini dapat dituliskan di kertas plano atau presentasi.

 

PENUTUPAN DAN PENUGASAN (15 menit)

Persiapan:

    Tuliskan tugas untuk Calon Guru Penggerak di kertas plano

Pelaksanaan:

Pengajar Praktik (PP) menutup kegiatan dengan memberikan apreasiasi kepada seluruh Calon Guru Penggerak di dalam ruangan. Pengajar Praktik (PP) juga memberikan penugasan dan semangat kepada seluruh Calon Guru Penggerak untuk dapat mempraktekkan strategi yang telah disusun demi memberi yang terbaik kepada murid.

 

PENUGASAN:

1.      Menyusun RPP “Berpihak pada Murid” dan menerapkan di kelas

2.      Meminta salah satu guru untuk melihat praktek Bapak/Ibu dan memberi umpan balik (silahkan cetak lembar identifikasi sebagai rubrik bagi rekan untuk menilai praktek kita)

3.      Meminta komentar dari murid seusai pembelajaran dan mencatatnya

4.      Melakukan pendekatan pada 1 rekan sejawat, meminta izin untuk melaksanakan pertemuan coaching, menyusun rencana strategi coaching, dan menerapkannya

 


FOTO SETELAH PENUTUPAN



III.             PRODUK YANG DIHASILKAN

1.      RPP Berdifrensiasi                  : Pada Folder tersendiri (Setiap CGP)

2.      Lembar Kerja Lokakarya 4     : Pada Folder tersendiri (Setiap CGP)

  

IV.             KETERCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN

1.  Calon Guru Penggerak (CGP) sudah mengetahui 3 target belajar yang akan dicapai pada pertemuan lokakarya 4 yakni pemetaan kemajuan diri, pengembangan orang laian dan merencanakan RPP yang berpihak pada murid

2.       Calon Guru Penggerak (CGP) sudah  memahami dan melaksanan kesepakatan untuk mendukung tercapainya tujuan belajar Bersama

3.  Calon Guru Penggerak (CGP) sudah mampu merefleksikan perasaan atas pengalaman melaksanakan komitmen bulan lalu

4.    Calon Guru Penggerak (CGP) sudah menunjukkan sikap menghargai diri sendiri dan rekan sejawat dalam proses pencapaian mimpi

5.       Calon Guru Penggerak (CGP) sudah memahami secara spesifik kondisi diri dalam pengajaran

6. Calon Guru Penggerak (CGP) sudah mampu mempraktekkan strategi coaching untuk mengembangkan orang lain

7.    Calon Guru Penggerak (CGP) sudah mampu melakukan identifikasi prinsip diferensiasi siswa dalam RPP

8.  Calon Guru Penggerak (CGP) sudah mampu membuat RPP Berpihak pada murid  yang mengutamakan diferensiasi murid.

 

V.         KESIMPULAN DAN REFLEKSI PEMBELAJARAN

1.      Calon Guru Penggerak sudah mampu membuat pemetaan diri

2.      Calon Guru Penggerak sudah mampu melakukan coaching untuk mengembangkan orang lain

3.   Calon Guru Penggerak sudah mampu Menyusun RPP Berpihak pada murid  yang mengutamakan diferensiasi murid

4.     Calon Guru Penggerak sudah dapat mengidentifikasi RPP teman sejawat dan saling memberi masukan demi perbaikan.

5.      Secara keseluruhan lokakarya 4 sudah berjalan dengan baik dan semua peserta sangat antusias mengikutinya.

6.      Kami sebagai Pengajar Praktik sekaligus menjadi Fasilitator mendapat banyak pengalaman dan inmu baru dalam melaksanakan coaching dari praktik yang dilakukan kelompok pada lokakarya 4 ini.

7.      Kami sebagai Pengajar Praktik sekaligus menjadi Fasilitator semakin memahami kekuatan dan kelamahan diri kami dalam melaksanakan lokakarya in dan ilmu tersebut menjadi bekal kami yang akan kami implementasikan di sekolah tempat tugas kami.

8.      Dengan melaksanakan lokakarya 4 ini kami sebagai Pengajar Praktik (PP) semakin tertantang untuk melayakkan diri kami untuk tampil lebih baik lagi pada lokakarya berikutnya.


Salam Guru Penggerak























Entri yang Diunggulkan

LAPORAN LOKAKARYA 5 PROGRAM PENDIDIKAN GURU PENGGERAK ANGAKATAN 4 KOTA PEMATANGSIANTAR

    LAPORAN KEGIATAN   LOKAKARYA KELIMA   REFLEKSI KOMPETENSI CALON GURU PENGGERAK   THEMA: GURU SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN   ...